Kamis, 29 Januari 2026
Kecerdasan Anak
Minggu, 25 Januari 2026
Ujian Proposal Tesis
Jumat, 23 Januari 2026
Peran Lailatul Ijtima'
Di Bulan Sya'ban
Kuliah Bukanlah Scam
Senin, 19 Januari 2026
EPISTEMOLOGIS: Peristiwa Isra Mi’raj
Minggu, 18 Januari 2026
Luangkan, Kumpul & Refreshing Sejenak
Minggu, 11 Januari 2026
12.7 Sabar Dalam Menghadapi Ujian
Sabar Dalam Menghadapi Ujian
Menjadi seorang Muslim, sabar merupakan akhlak yang ditekankan untuk dimiliki orang yang beriman dalam menjalani kehidupan ini. Salah satu bentuk kesabaran yang perlu kita miliki adalah sabar dalam menghadapi ujian dari Allah Swt.
Tidak ada satu pun manusia yang luput dari ujian dari Allah Swt. Ada beberapa bentuk ujian kehidupan yang Allah berikan, antara lain ada yang diuji dengan kehilangan orang tercinta, ada yang diuji dengan sakit yang berkepanjangan, ada pula yang diuji dengan rezeki yang terasa sempit atau musibah yang datang tiba-tiba. Di masa sulit tersebut, akan sangat mudah membuat kita menjadi berputus asa, menanamkan prasangka, dan pada akhirnya menurunkan iman kita.
Maka yang harus kita lakukan adalah menjaga iman kita kepada Allah Swt. Bagaimana caranya? Kita hanya perlu sabar dan tawakal, bahwa Allah adalah satu-satunya tempat kita bergantung untuk keluar dari segala kesulitan.
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 146).
Sabar bukan berarti hanya diam tanpa berusaha. Sabar adalah ikhlas menerima kenyataan yang berat, menahan lisan dari keluh kesah, serta tetap berusaha dengan cara yang diridhai Allah Swt.
Kita perlu menjadikan sabar sebagai benteng kita agar hati menjadi tenang dan langkah tetap terjaga. Bagi orang yang bersabar, ujian kehidupan merupakan peluang untuk belajar bersyukur dengan keyakinan bahwa Allah Swt mengetahui apa yang terbaik bagi umat-Nya.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Al-Qur’an Surat Al-Insyirah Ayat 5-6).
Dari ayat di atas menunjukkan bahwa ketika kita mendapati kesulitan, pada saat yang sama Allah Swt memberikan lebih banyak kemudahan. Sebesar apa pun ujian yang datang, pertolongan Allah Swt lebih luas dan lebih dekat dari yang disangka. Dengan pemahaman tersebut, maka hati kita akan menjadi lebih lapang saat menghadapi ujian yang dirasa sulit dalam kehidupan ini.
Pada akhirnya, kita akan bertahan dari segala ujian atas izin Allah Swt. Semoga Allah menjadikan kita orang yang sabar dalam menghadapi segala ujian-Nya.
Bersambung......
In Frame
Sekedar Berbagi
11.7 Kerukunan Dalam Islam
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat : 13).
Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi supaya saling mengenal dan menolong. Allah tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya karena yang paling mulia di antara manusia di sisi Allah hanyalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya.
Dari ayat itupun jelaslah bahwa berbeda itu sebuah keniscayaan. Berbeda warna kulit, ras, suku bangsa, berbeda bahasa, berbeda adat budaya, dan bahkan berbeda agama dan keyakainan.
Yang terakhir ini, yang tadi saya sebutkan yakni berbeda agama dan keyakinan sering menjadi sebuah pemicu terjadi konflik baik vertical maupun horizontal. Saya yakin, perbedaan ras, suku dan budaya di tengah-tengah kemajemukan Indonesia sudah selesai. Tetapi berbeda agama dan keyakinan sekali lagi masih menjadi titik potensi konflik, yang sekali-kali bisa meletup ke permukaan. Oleh karenanya diperlukan kearifan dan kesadaran kolektif dari kita bersama bahwa berbeda itu sebuah keniscayaan atau dalam teks agama disebut dengan sunnatullah.
Sikap berlapang dada menerima segala perbedaan yang ada, dalam terminologi Islam dikenal dengan tasammuh atau lazim disebut toleransi. Kaitannya dengan perbedaan keyakinan agama, ada tiga macam kerukunan umat beragama. Yakni ; kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah.
Bersambung......
In Frame
Sekedar Berbagi
10.7 Etos Kerja Seorang Muslim
Etos kerja adalah seperangkat nilai yang menekankan pentingnya kerja keras dan dedikasi dalam menjalankan tugas. Bagi seorang Muslim, etos kerja bukan hanya tentang profesionalisme dan produktivitas, tetapi juga merupakan manifestasi dari iman dan ketaatan kepada Allah. Dalam Islam, bekerja adalah bentuk ibadah, dan seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja dengan penuh semangat, kejujuran, dan integritas.
Islam mengajarkan bahwa bekerja adalah bagian integral dari kehidupan seorang Muslim. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang bekerja keras.” (HR. Tirmidzi). Pekerjaan tidak hanya dilihat sebagai cara untuk mencari nafkah, tetapi juga sebagai sarana untuk berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan mendapatkan ridha Allah. Al-Quran juga menekankan pentingnya bekerja keras dan jujur dalam mencari rezeki. Dalam Surah Al-Mulk ayat 15, Allah berfirman, “Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
Dalam Islam, terdapat beberapa prinsip penting yang melanjadi adanya etos kerja ini. Pertama, Kejujuran dan Integritas, Seorang Muslim harus selalu jujur dan berintegritas dalam bekerja. Kejujuran adalah nilai utama yang diajarkan dalam Islam. Dalam Surah Al-Isra ayat 34, Allah mengingatkan agar tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik hingga mereka dewasa. Ini menunjukkan pentingnya menjaga kejujuran dan amanah dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam pekerjaan.
Kedua, Kerja Keras dan Ketekunan. Kerja keras adalah salah satu pilar utama etos kerja Muslim. Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras dan tekun dalam menjalankan tugas. Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau bekerja keras dalam menyebarkan ajaran Islam dan menjalankan berbagai aktivitas ekonomi. Kisah-kisah para sahabat juga penuh dengan contoh-contoh kerja keras dan dedikasi.
Ketiga, Kedisiplinan dan Tanggung Jawab. Disiplin dan tanggung jawab adalah aspek penting dalam etos kerja seorang Muslim. Seorang Muslim harus tepat waktu, disiplin, dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional dan sempurna).” (HR. Thabrani).
Keempat, Kerja Sama dan Kepedulian Sosial. Islam mengajarkan pentingnya bekerja sama dan peduli terhadap sesama. Dalam bekerja, seorang Muslim harus mampu bekerja sama dengan baik dengan rekan kerja dan memiliki kepedulian sosial. Zakat dan sedekah adalah contoh konkret dari ajaran Islam yang mendorong kepedulian terhadap orang lain dan kontribusi positif terhadap masyarakat.
Kelima, Keseimbangan antara Kehidupan Dunia dan Akhirat. Seorang Muslim dituntut untuk menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Pekerjaan harus dilakukan dengan niat yang baik dan tidak boleh mengabaikan kewajiban ibadah. Dalam Surah Al-Qasas ayat 77, Allah berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”
BERSAMBUNG....
In Frame
Sekedar Berbagi