“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat : 13).
Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi supaya saling mengenal dan menolong. Allah tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya karena yang paling mulia di antara manusia di sisi Allah hanyalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya.
Dari ayat itupun jelaslah bahwa berbeda itu sebuah keniscayaan. Berbeda warna kulit, ras, suku bangsa, berbeda bahasa, berbeda adat budaya, dan bahkan berbeda agama dan keyakainan.
Yang terakhir ini, yang tadi saya sebutkan yakni berbeda agama dan keyakinan sering menjadi sebuah pemicu terjadi konflik baik vertical maupun horizontal. Saya yakin, perbedaan ras, suku dan budaya di tengah-tengah kemajemukan Indonesia sudah selesai. Tetapi berbeda agama dan keyakinan sekali lagi masih menjadi titik potensi konflik, yang sekali-kali bisa meletup ke permukaan. Oleh karenanya diperlukan kearifan dan kesadaran kolektif dari kita bersama bahwa berbeda itu sebuah keniscayaan atau dalam teks agama disebut dengan sunnatullah.
Sikap berlapang dada menerima segala perbedaan yang ada, dalam terminologi Islam dikenal dengan tasammuh atau lazim disebut toleransi. Kaitannya dengan perbedaan keyakinan agama, ada tiga macam kerukunan umat beragama. Yakni ; kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah.
Bersambung......
In Frame
Sekedar Berbagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar